Harga Emas

Harga Emas Melemah Ditekan Kenaikan Bursa Saham

Harga emas jatuh pada perdagangan hari Jumat karena penguatan bursa saham dan dolar Amerika Serikat (AS). Namun kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan kurang jelasnya pembicaraan perang dagang AS-China membuat penurunan harganya tak begitu besar.

Mengutip CNBC, Sabtu (17/8/2019), harga emas di pasar spot turun 0,5 persen ke level USD 1.514,70 per ounce. Namun jika dihitung secara mingguan, harga logam mulia tersebut naik lebih dari 1 persen pada pekan ini.

Untuk harga emas berjangka AS ditutup turun 0,5 persen ke level USD 1.523,60 per ounce

“Indeks dolar AS sedikit menguat, bursa saham juga kembali naik. Pelaku pasar sedikit beralih ke instrumen yang berisiko pada perdagangan kali ini,” jelas analis RJO Futures, Phillip Streible.

Selain itu, penurunan harganya juga diakibatkan aksi ambil untuk pelaku pasar setelah harga logam mulia tersebut mengalami kenaikan berminggu-minggu.

Harapan pelaku pasar akan adanya stimulus ekonomi dan pelonggaran kebijakan moneter di beberapa negara mendorong pasar saham menguat pada perdagangan Jumat. Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama lain juga naik 0,1 persen.

“Dikihat secara teknikal, harga emas masih terlihat bagis. Tetapi kita harus melihat di atas level USD 1.546 per ounce untuk bisa mendorong kembali ke reli jangka panjang,” jelas Streible.

Harga emas telah naik lebih dari USD 100 sejak awal bulan di tengah kejatuhan imbal hasil obligasi global dan meningkatnya perang dagang.

Harganya naik pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakarta). Pendorong kenaikan harga emas karena kekhawatiran atas penurunan ekonomi global dan kurangnya kejelasan penyelesaian perang dagang AS-China.

Namun kenaikan emas terbatas karena investor melihat data ekonomi AS seperti penjualan ritel tidak meosot terlalu dalam.

Mengutip CNBC, Jumat (16/8/2019), harga emas di pasa spot naik 0,5 persen ke level USD 1.524,47 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS naik 0,5 persen ke level USD 1.535,4 per ounce.

Kenaikan harga ini terjadi karena kembalinya kekhawatiran akan resesi global akibat turunnya perekonomian beberapa benua. Selain itu ada keresahan-keresahan lain yang mengakibatkan investor wait and see.

Keresehan tersebut antara lain perang dagang antara AS dengan China yang tak kunjung selesai. Adanya demo besar-besaran di Hong Kong dan juga masalah Brexit yang belum ada titik temu.

“Tetapi penjualan titel AS yang kuat memberikan harapan kepada pelaku pasar,” jelas analis TD Securities Daniel Ghali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *